Keluar Darah Dari Hidung? Mungkin Kamu Mengalami Epistaksis

Ketika melihat darah keluar dari hidung, kebanyakan orang mungkin akan langsung panik karena menganggap itu pertanda kondisi serius. Mimisan merupakan suatu keadaan dimana darah keluar dari hidung, biasanya disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah yang letaknya berada pada bagian naso faring.

Mimisan sendiri pada umumnya hanya terjadi dalam beberapa menit saja dan tidak terlalu sering terjadi. Nah, untuk mengetahui lebih dalam mengenai keluarnya darah dari hidung ini, untuk itu kita simak bersama artikel hari ini.

Pengertian Mimisan

Mimisan adalah pendarahan yang terjadi dari hidung. Darah dapat keluar dari salah satu atau kedua lubang hidung dengan durasi yang berbeda-beda. Ada yang mengalaminya hanya selama beberapa detik dan ada yang lebih dari lima menit. Mimisan juga dapat terjadi saat sedang tidur.

Hampir semua dari kita pernah mengalami mimisan. Kondisi ini cenderung menakutkan dan menyebabkan kepanikan, khususnya jika terjadi pada anak-anak. Perlu diketahui bahwa mimisan atau epistaksis merupakan kondisi yang umum terjadi dan biasanya tidak mengancam jiwa.

Namun apakah mimisan ini sering terjadi terhadap anak-anak saja? Biasanya, mimisan tidak memandang usia dan jenis kelamin, baik tua dan muda, laki-laki dan perempuan memiliki faktor resiko yang sama mengalami mimisan pada saat-saat tertentu.

Mungkin timbul di dalam benak dan pikiran anda, bagaimana mimisan dapat terjadi?. Sebenarnya sederhana saja, mimisan baik pada anak-anak maupun orang dewasa, hingga lanjut usia dapat terjadi karena satu hal. Yaitu terjadinya pecah pembuluh darah pada bagian dalam hidung.

Penyebab Mimisan

Darah yang keluar dari hidung bisa berasal dari bagian depan hidung (anterior) atau belakang hidung (posterior) dan darah juga bisa keluar dari satu atau kedua lubang hidung. Namun, kebanyakan epistaksis berasal dari anterior dan hanya keluar dari satu lubang hidung. Epistaksis anterior biasanya mudah diatasi, bukan pertanda hal serius dan dapat ditangani dengan perawatan rumahan.

Sementara itu, epistaksis posterior (di mana darah mengalir ke rongga mulut dan tenggorokan) lebih rumit dan butuh tangan ahli untuk mengatasinya. Kondisi ini bisa menyerang semua usia, namun lebih sering dialami oleh anak-anak berusia 2–10 tahun dan orang dewasa berusia 50–80 tahun. Pendarahan yang terjadi dapat berlangsung sekitar beberapa detik hingga 10 menit, atau bahkan lebih lama lagi.

Penyebab epistaksis anterior:

  1. Kondisi udara kering bisa membuat bagian dalam hidung Anda menjadi kering. Hal ini lebih rentan membuat hidung mengalami perdarahan dan infeksi.
  2. Suhu udara yang tinggi (udara panas).
  3. Mengupil dengan kuku yang tajam.
  4. Membuang ingus dengan terlalu keras.
  5. Sedang berada di dataran tinggi.
  6. Cedera ringan pada hidung.
  7. Hidung tersumbat akibat pilek atau flu.
  8. Sinusitis.
  9. Alergi.
  10. Penggunaan dekongestan secara berlebih.
  11. Hidung bengkok (septum deviasi) bawaan lahir atau akibat cedera.

Penyebab epistaksis posterior:

  1. Hidung patah.
  2. Pengerasan dinding pembuluh darah arteri (aterosklerosis).
  3. Operasi hidung.
  4. Penyakit genetik yang memengaruhi pembuluh darah.
  5. Terjadi pukulan keras pada kepala atau terbentur.
  6. Penggunaan obat yang bisa memicu perdarahan, seperti aspirin dan antikoagulan.
  7. Adanya gangguan pembekuan darah.
  8. Tumor di rongga hidung.
  9. Leukimia.

Dan perlu untuk kamu tahu, bahwa mimisan dapat dengan beberapa penyebab, bahkan perubahan cuaca juga dapat menyebabkan sedikitnya orang mengalami mimisan.

  • Kelainan pembuluh darah (Lokal)

Penyebab mimisan karena kelainan pembuluh darah, seringkali merupakan penyebab yang bersifat kongenital atau bawaan, dimana ukuran pembuluh darah lebih tipis, lebar, jaringan ikat dan sel-selnya lebih lebih sedikit.

  • Tumor

Mimisan juga dapat terjadi jika seseorang menderita tumor di rongga hidung yaitu angiofibroma. Tumor ini biasa ditemukan pada anak usia muda atau dewasa muda dan seringkali terlihat sebagai benjolan sebesar biji nangka berwarna merah keputihan di hidungnya.

  • Penyakit Kardiovaskular

Penyakit hipertensi/darah tinggi dan penyakit kelainan pembuluh darah seperti terjadi pada arteriosklerosis, sirosis hepatis, nefritis kronik atau dabetes melitus dapat menyebabkan mimisan atau epistaksis terjadi.

Epitaksis yang terjadi pada penderita penyakit kardiovaskular seringkali hebat dan dapat berakibat fatal. Untuk itulah, pada penderita penyakit ini saat epistaksis terjadi sebaiknya segera dapatkan perhatian medis agar segera mendapatkan penanganan yang lebih serius.

  • Perubahan Suhu

Perubahan suhu secara tiba-tiba dari panas ke dingin atau sebaliknya juga dapat menyebabkan terjadinya epistaksis. Hal ini sering terjadi pada masyarakat yang tinggal di negara yang memiliki 4 pergantian musim, sedangkan di Indonesia sendiri suhunya relatif konstan sehingga mimisan dengan sebab ini amat jarang terjadi.

  • Infeksi Sistemik

Penyakit sistemik yang sering menyebabkan terjadinya mimisan adalah demam berdarah (dengue hemorrhagic fever). Influenza, morbilli yang disertai mimisan juga demam tifoid.

  • Gangguan Hormonal

Mimisan atau episteksis ini bisa juga terjadi pada wanita hamil atau mereka yang telah memasuki masa menopause karena pengaruh perubahan hormonal.

Siapa yang tak panik bila darah keluar dari tubuhnya, terlebih lagi bila itu terjadi pada buah hati kita. Bakalan panik dan bingung, apa yang terjadi padanya? Mengapa bisa seperti itu? Yah banyak pertanyaan yang membebaninya. Nah sebenarnya mimisan ini paling sering terjadi pada saat kita berada dirumah ataupun dilingkungan sekolah.

Dan pasti penanganannya juga dirumah bukan? Nah adakah dari kamu yang pernah mengalami hal seperti ini? Adapun langkah dalam menangani mereka yang bila mengalami mimisan.

Jangan Keburu Panik, Lakukan Hal Ini

  • Duduk tegak dan jangan berbaring. Posisi duduk akan mengurangi tekanan pada pembuluh darah hidung sehingga dapat menghentikan pendarahan. Sedangkan berbaring justru akan menambah tekanan.
  • Condongkan tubuh ke depan sehingga darah keluar lewat hidung dan tidak masuk ke tenggorokan.
  • Keluarkan dan buang darah yang mengalir ke mulut. Menelan darah dapat memicu keinginan untuk muntah.
  • Gunakan ibu jari dan telunjuk untuk memencet hidung selama sekitar 10 menit. Langkah ini akan memberi tekanan pada sumber pendarahan sehingga menghentikan darah. Jangan lupa untuk bernapas lewat mulut.
  • Letakkan kompres dingin pada pangkal hidung untuk memperlambat pendarahan.

Setelah mimisan berhenti, usahakan agar Anda tidak membuang ingus, membungkuk, atau melakukan aktivitas berat selama setidaknya 12 jam. Langkah ini juga dapat mencegah terjadinya iritasi pada hidung. Jika mimisan tidak kunjung berhenti setelah 25 menit, Anda sebaiknya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Penentuan jenis penanganan ini tergantung kepada penyebab mimisan.

Orang yang diduga mengalami mimisan karena penyakit tertentu, misalnya hemofilia, akan dianjurkan untuk menjalani tes darah guna memastikan diagnosis. Sedangkan jika sinusitis menjadi penyebab mimisan, dokter akan memberikan antibiotik untuk mengatasinya. Begitu juga dengan mimisan yang disebabkan oleh penggunaan obat tertentu. Jenis serta dosis obat tersebut perlu ditinjau ulang.

Adapun langkah yang dapat kamu ikuti agar tak terjadinya sebuah mimisan, sebab seperti yang sebelumnya dijelaskan bahwa mimisan dapat terjadi dengan adanya beberapa penyebab.

Langkah Pencegahan Mimisan

Bekas luka pada pembuluh darah sehabis mimisan biasanya dapat membentuk koreng dan membuat hidung terasa tidak nyaman. Tetapi jangan mengorek koreng tersebut karena hal ini dapat kembali memicu mimisan. Hidung juga umumnya akan lebih rentan terkena iritasi atau infeksi setelah mimisan. Karena itu, menjauhlah sebisa mungkin dari pengidap flu atau pilek.

Menghindari rokok, minuman keras, serta minuman panas juga dapat membantu. Selain untuk menghindari kembalinya mimisan, ada beberapa langkah sederhana yang mungkin berguna dalam pencegahan kondisi ini.

  1. Berhati-hatilah saat mengorek hidung, jangan terlalu dalam.
  2. Jangan membuang ingus terlalu kencang.
  3. Kurangi merokok. Rokok dapat mengurangi kelembapan hidung dan meningkatkan risiko iritasi hidung.
  4. Gunakan obat pelega hidung sesuai dengan dosis pada kemasan atau anjuran dokter.
  5. Diskusikan dengan dokter jika Anda pernah mimisan dan harus menggunakan obat antikoagulan.

Gimana? Sudah pahamkan apa yang dimaksud dengan Epistaksis? Nah untuk itu nggak perlu khawatir bila mengalami hal seperti ini. Namun tetap ingat, bila pendarahan yang keluar terlalu sering dan disebabkan oleh suatu penyakit, kalian harus segera periksa kedokter. Maka dari itu sekian dulu mengenai pembahasan ini, semoga artikel ini bermanfaaat dan selamat membaca guys.