Manusia Yang “Terlihat Normal” Bisa Mengalami Gangguan Jiwa

Seneng deh akhirnya bisa kesampaian juga nonton drama Koreanya. Yaampun sebahagia itu kamu, gimana nggak bahagia filmnya seru banget tuh. Emang kamu nonton K-Drama judul apa? It’s Okay That’s Love, wah film yang menceritakan kisah cinta antara dokter dan seorang penulis kan? Iya bener sekali, kok kamu tahu? Yah tahu lah Filmnya oke banget, selain menceritakan kisah cinta didalam filmnya terdapat kisah pilu banyak orang yang memiliki gangguan terhadap pola pikir dan sikap mereka.

Ternyata orang yang terlihat normal juga memiliki gangguan jiwa lho, haa? Iya emang kamu nggak paham apa alur dari cerita Film ini? Saya sih hanya ngeliat mereka (pemeran utama wanita dan prianya) saja.

Duh dasar kamu, film ini menceritakan tentang mental seorang anak dan trauma yang dimiliki antara pemeran utamanya. Nah mau tahukah mengenai sifat manusia yang terlihat normal namun ia memiliki gangguan pada jiwa dan pikirannya. Untuk itu yuk, kita simak artikel pada hari ini dan dibaca terus ya guys, biar kamu pada tahu dan nggak keliru lagi.

Sakit Jiwa Ternyata Ada Banyak

Sakit Jiwa adalah gangguan mental yang berdampak kepada mood, pola pikir, hingga tingkah laku secara umum. Seseorang disebut mengalami sakit jiwa jika gejala yang dialaminya menyebabkan sering stres dan menjadikannya tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara normal.

Bahkan orang yang mengalami ini akan disebut sebagai orang gila (orang yang tidak memliki malu dan tak mengerti apapun lagi). Namun disini saya ingin menjelaskan bahwa bukan mereka saja (orang stress) yang mengalami gangguan jiwa, melainkan manusia normal pada umunya juga dapat mengalami gangguan jiwa.

Ada banyak kondisi kesehatan yang dapat dikategorikan sebagai sakit jiwa. Tiap kelompok dapat terbagi lagi menjadi jenis-jenis sakit jiwa tertentu. Berikut beberapa kondisi yang sering terjadi pada manusia dan inilah yang dikatakan bahwa manusia yang terlihat normal sebenarnya ia mengalami gangguan jiwa.

  • Gangguan kecemasan. Seseorang yang mengalami gangguan kecemasan merespon objek atau situasi tertentu dengan perasaan ketakutan, panik, berkeringat dan detak jantung menjadi lebih cepat. Respon ini tidak dapat mereka kontrol dan mengganggu keseharian. Gangguan kecemasan juga dapat berupa fobia terhadap situasi tertentu, gangguan kecemasan sosial, ataupun gangguan panik.
  • Gangguan kepribadian. Mereka yang mengalami gangguan kepribadian umumnya memiliki karakter yang ekstrem dan kaku yang cenderung tidak sesuai dengan kebiasaan bermasyarakat, seperti antisosial atau paranoid. Gangguan ini tak boleh kamu sepelekan, kamu dapat berkonsultasi dengan mereka yang mengerti kondisimu.
  • Gangguan afektif/mood. Orang yang mengalami gangguan mood dapat terus-menerus merasa sedih, merasa terlalu gembira pada periode tertentu, atau memiliki perasaan senang dan sangat sedih secara fluktuatif. Bentuk paling umum dari kondisi ini antara lain gangguan bipolar, depresi dan gangguan kiklomitik di mana perubahan mood dari senang ke sedih atau sebaliknya secara signifikan.
  • Gangguan ketidakmampuan mengontrol keinginan. Orang dengan gangguan ini tidak dapat menolak dorongan dari dalam dirinya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya membahayakan diri sendiri atau orang lain. Gangguan jiwa yang termasuk kelompok ini antara lain kleptomania (mencuri barang-barang kecil), piromania (suka menyulut api). Duh serem amat ya, namun gangguan ini bener adanya.
  • Gangguan psikosis. Gangguan ini mengacaukan pikiran dan kesadaran manusia. Halusinasi dan delusi adalah dua bentuk gejala paling umum dari kondisi ini. Orang yang mengalami halusinasi merasa melihat atau mendengar suara yang sebenarnya tidak nyata. Sedangkan delusi adalah hal tidak benar yang dipercaya pengidapnya sebagai benar, misalnya delusi kejar, dimana penderita merasa diikuti seseorang. Contoh gangguan psikosis yang paling dikenal adalah skizofrenia. Pengidap skizofrenia mengalami gangguan otak yang membuatnya dapat mengalai halusinasi dan delusi.

Seperti yang dikatakan tadi bahwa orang yang disekitar kita tidak bisa membedakan antara orang sehat dengan orang sakit (gangguan jiwa) dan tak ada penderita gangguan jiwa yang menyadari dirinya mengalami gangguan. Secara umum, perbedaan tingkah laku orang sehat dengan penderita gangguan jiwa sangat tipis. Nah mungkin kamu akan bertanya-tanya apasih yang menyebabkan orang mengalami gangguan apa jiwanya?

1. Genetik (keturunan)

Kelainan kesehatan mental kadang-kadang bisa diturunkan melalui genetik, sehingga orang yang anggota keluarganya punya riwayat gangguan mental mungkin agak lebih rentan untuk mengembangkan suatu kelainan mental juga. Kecenderungan untuk menderita kelainan mental ini dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya melalui genetik. Para ahli meyakini bahwa banyak gangguan mental dipicu oleh perpaduan dari banyak gen ‘penyakit mental’.

Bukan hanya satu atau beberapa gen, serta bagaimana gen-gen ini berinteraksi dengan lingkungan tidak sama untuk setiap orang (bahkan kembar identik pun tidak sama).Itulah sebabnya jika seseorang mewarisi kecenderungan kelainan mental dari orang tuanya bukan berarti dia nantinya pasti akan mengalami gangguan mental.

Kelainan ini hanya akan terjadi jika ada interaksi gen-gen ‘penyakit mental’ dengan faktor-faktor pemicu lainnya. Misalnya stres, penganiayaan, atau peristiwa traumatis dapat memengaruhi atau memicu perkembangan gangguan mental pada orang tersebut.

2. Infeksi

Jenis infeksi tertentu dituduh sebagai penyebab kerusakan otak dan memicu perkembangan gangguan mental atau setidaknya memperparah gejala-gejala yang sudah ada. Sebagai contoh, suatu penyakit yang dikenal sebagai gangguan autoimun neuropsikiatri pediatrik yang dikaitkan dengan infeksi bakteri Streptococcus diduga telah memicu perkembangan gangguan obsesif-kompulsif serta penyakit mental lainnya pada anak-anak.

3. Cacat

Cedera pada otak atau cacat yang mengakibatkan kerusakan pada area-area otak tertentu juga dianggap dapat menjadi penyebab gangguan mental. Karena terganggunya saraf pada otak yang mengakibatkan seseorang mengalami hal buruk ini.

4. Kesalahan Saat kehamilan

Beberapa bukti menunjukkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin di tahap awal pertumbuhannya atau trauma otak yang dialami sewaktu bayi dilahirkan ( misalnya, hilangnya asupan oksigen ke otak) mungkin mampu memicu perkembangan kelainan mental tertentu, seperti gangguan spektrum autisme.

5. Penyalahgunaan obat-obatan

Konsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang khususnya dikaitkan dengan gangguan kecemasan, depresi, serta paranoia gangguan mental karena ketakutan. Hal ini juga berpengaruh besar dalam merusak sisitem saraf otak yang mengakibatkan seseorang mengalami gangguan kejiwaan.

Gimana sudah tahukan bahwa ada beberapa penyebab yang membuat seseorang mengalami gangguan pada jiwanya. Untuk itu sekian dulu artikel hari ini dan selamat membaca.