Pengertian Sel Darah Putih: Jenis, Fungsi Serta Bahaya Kelebihannya

Darah merupakan cairan yang sangat penting bagi tubuh manusia, yakni darah berfungsi untuk mengedarkan dan membawa nutrisi dan oksigen ke semua sel dan jaringan didalam tubuh kita dan pada saat yang sama menghilangkan bahan limbah dan karbondioksida. Namun tidak hanya itu darah juga mempunyai peranan penting dalam mencegah penyakit dan infeksi yang menyerang tubuh kita. Darah terdiri dari beberapa komponen yaitu Sel Darah Putih, Sel Darah Merah dan banyak sel-sel lainya yang membentuk sel darah.

Pada beberapa titik dalam hidup kita, kita semua berurusan dengan penyakit dalam satu bentuk atau lain. Cara di mana kita mampu menangani penyakit biasanya tergantung pada kekuatan sistem kekebalan tubuh kita. Salah satu alat utama dalam sistem kekebalan tubuh kita adalah sekelompok sel khusus yang dikenal sebagai sel Darah putih. Lalu, apakah sel darah putih itu? Apa pentingnya sel darah putih bagi tubuh? Nah untuk mengetahuinya lebih lanjut mari kita simak bersama ulasan dibawah ini.

Pengertian Sel Darah Putih

Sel darah putih atau dalam istilah medis disebut dengan leukosit merupakan suatu komponen pembentuk darah selain dari sel darah merah dan keping darah. Sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti, dapat bergerak secara amoebeid dan dapat menembus dinding kapiler (diapedesis). Jumlah sel darah putih pada setiap millimeter darah manusia adalah sekitar 6000-8000 sel. Sel darah putih berperan sebagai agen yang memerangi agen infeksi yang masuk ke tubuh. Tempat pembentukan sel darah putih ialah di sumsum tulang, limpa dan kelenjar getah bening.

Semua sel darah putih tersebut memiliki rentang masa waktu untuk hidup yaitu 6-8 hari. Sel darah putih merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi untuk membantu tubuh dalam melawan infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, maupun jamur. Sistem kerjanya adalah pada saat virus maupun bakteri masuk ke dalam darah, sel darah putih akan dapat mengenali serta menghancurkan partikel-partikel berbahaya tersebut.

Sel darah putih ini tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. Leukosit mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel asing atau mikroorganisme penyusup. Semua leukosit memiliki nukleus (inti sel) yang membedakannya dengan sel darah lain, tidak seperti sel darah merah (eritrosit) dan trombosit yang keduanya tidak memiliki inti sel.

Ternyata sel darah putih itu sebutan dari berbagai jenis sel darah yang secara garis besar dikelompokkan menjadi dua, yaitu granulosit dan agranulosit. Pengelompokan ini didasarkan pada ada tidaknya butiran pada sitoplasma di dalam selnya:

1. Granulosit

Granulosit dapat dengan mudah dibedakan oleh warna butiran mereka ketika diwarnai dengan noda Wright. Ketiga jenis granulosit adalah neutrofil, eosinofil, dan basofil. Mereka terbentuk di sumsum tulang merah pada vertebrata. Neutrofil paling banyak dari sel darah putih dan mengandung inti dengan satu sampai lima lobus. Fungsi utama neutrofil adalah untuk menghancurkan patogen oleh fagositosis.

Eosinofil mengandung inti tidak teratur berbentuk dengan dua lobus, dan tentu saja, seragam, bulat atau butiran berbentuk oval dalam sitoplasma mereka. Eosinofil meningkat dalam jumlah besar dalam kondisi alergi dan penting untuk menelan dan detoksifikasi protein asing. Basofil memiliki inti yang berbentuk S. Basofil melakukan fagositosis dan mereka melepaskan herpin dan histamin, dan mendorong respon inflamasi pada organisme.

2. Agranulosit

Ada dua jenis agranulosit, yaitu Monosit dan Limfosit. Sel-sel ini tidak memiliki butiran dalam sitoplasma mereka. Monosit adalah jenis sel yang terbesar darah putih dan berisi inti berbentuk sepatu kuda. Fungsi utama dari monosit adalah melaksanakan fagositosis puing selular dan partikel asing. Limfosit biasanya jenis sel darah kedua terbanyak putih dan mengandung satu inti bulat besar.

Kedua jenis limfosit adalah limfosit T dan limfosit B. Limfosit T secara langsung menyerang sel yang terinfeksi dan mereka tidak membuat antibodi. Tidak seperti limfosit T, limfosit B menghasilkan antibodi dan melepaskan ke dalam aliran darah untuk beredar dan menyerang partikel asing. Monosit membuat 1-7%, sedangkan limfosit membuat 15 sampai 30% dari total sel darah putih dalam manusia dewasa.

Jenis-jenis Sel Darah Putih

Semua jenis sel tersebut saling berkoordinasi satu sama lain untuk melindungi sistem kekebalan tubuh dan melawan berbagai macam gangguan, seperti kanker, kerusakan sel, dan penyakit menular. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas satu persatu jenis-jenis sel-sel darah putih yang terdiri dari neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit dan monosit.

1. Neutrofil

Neutrofil adalah salah satu jenis sel darah putih, khususnya yang berbentuk granulosit, yang berisi pewarnaan butiran netral, kantung-kantung kecil enzim yang membantu sel untuk membunuh dan mencerna mikroorganisme setelah ditelan oleh fagositosis. Neutrofil matang mempunyai nukleus tersegmentasi (disebut segmen atau poli) sedangkan neutrofil imatur memiliki nukleus berbentuk pita (disebut band). Nukleus hanya berumur sekitar tiga hari.

Neutrofil beredar di sekitar tubuh kita dalam aliran darah dan ketika mereka merasakan sinyal bahwa infeksi hadir, mereka adalah sel pertama yang bermigrasi ke tempat infeksi untuk mulai membunuh mikroba yang menyerang. Neutrofil menempel pada dinding pembuluh darah yang berfungsi untuk menghalangi infeksi kuman atau bakteri yang mencoba masuk ke dalam darah melalui luka. Sel darah putih inilah yang paling aktif dan banyak terdapat dalam nanah pada luka ketika terjadi infeksi.

Fungsi sel darah putih tersebut membunuh kuman dengan proses fagositosis atau “pemakan sel”. Selain fagositosis bakteri satu per satu, neutrofil juga berfungsi dalam melepaskan superoksida yang diubah menjadi asam hipoklorit dan berfungsi untuk membunuh banyak bakteri. Ciri utama neutrofil adalah bahwa mereka memiliki tiga sampai lima bagian bulat di dalamnya disebut lobus yang dihubungkan oleh benang tipis yang dikenal sebagai kromatin.

Pewarnaan Neutrofil dengan mudah bila terkena pewarna netral. Pewarna dengan noda berwarna yang digunakan di laboratorium, sering memberitahu sel terpisah satu sama lain. Pewarna netral terdiri dari garam yang tidak memiliki muatan listrik. Kurangnya muatan listrik menyebabkan pewarna ini disebut netral. Inti (struktur pusat) dari noda neutrofil ungu gelap/biru bila terkena noda netral.

2. Monosit

Monosit adalah jenis sel darah putih yang diproduksi di sumsum tulang. Mereka membuat sekitar 3-8% dari total volume sel darah putih. Monosit dapat meninggalkan aliran darah dan masuk ke jaringan dan organ lain dalam tubuh, di mana mereka memiliki kemampuan untuk berubah menjadi berbagai jenis sel kekebalan yang disebut makrofag dan sel dendritik. Monosit memiliki waktu hidup yang lebih lama dari pada neutrofil, Monosit akan tinggal dalam aliran darah selama 10-20 jam. Setelah itu monosit akan tinggal dalam beberapa hari di dalam jaringan tubuh.

Fungsi dari monosit adalah untuk sistem kekebalan pada tubuh manusia. Permukaan sel monosit yang tidak mulus dikarenakan memiliki protein spesifik di atasnya yang memungkinkan untuk mengikat benda–benda asing seperti bakteri atau sel virus. Monosit akan menghancurkan benda–benda asing tersebut dalam tubuh, menghancurkan sel–sel yang kelainan seperti sel kanker dan juga membuang jaringan tubuh yang sudah rusak atau mati. Selain itu, monosit berfungsi dalam proses peradangan sehingga dalam prosesnya monosit akan menimbulkan gejala seperti demam, rasa nyeri pada organ tertentu dan juga warna kemerahan yang timbul pada organ yang mengalami peradangan.

Monosit dapat berjumlah banyak dan juga berjumlah sedikit tergantung kondisi apa yang dihadapi oleh tubuh seseorang. Monositosis atau jumlah monosit dalam jumlah banyak merupakan tanda dari infeksi yang sedang berlangsung. Infeksi yang terjadi biasanya bersifat kronis seperti infeksi pada penyakit infeksi paru – paru seperti Tuberkulosis dan juga kanker.

3. Basofil

Basofil adalah granulosit dengan populasi paling minim, yakni sekitar 0,01 – 0,3% dari sirkulasi sel darah putih. Basofil mengandung banyak granula sitoplasmik dengan dua lobus. Seperti granulosit lainnya, basofil dapat ditarik keluar menuju jaringan tubuh dalam kondisi tertentu. Saat teraktivasi, basofil mengeluarkan antara lain histamin, heparin, kondoitin, elastase dan lisofosfolipase, leukotriena dan beberapa macam sitokina. Basil memainkan peran dalam reaksi alergi (seperti asma).

Basofil diproduksi terus-menerus oleh sel-sel induk dalam sumsum tulang. Basofil mengeluarkan bahan alami anti pembekuan heparin, yang memastikan bahwa jalur pembekuan dan koagulasi tidak terus berlangsung tanpa pengawasan. Basofil juga terlibat dalam pembentukan respon alergik. Sel-sel ini memiliki fungsi sangat mirip dengan sel mast, yaitu sel pencetus peradangan jaringan tertentu. Akan tetapi yang berbeda adalah baseofil beredar dalam darah. Jumlah basofil dalam sel darah putih yang bersirkulasi adalah 1%.

4. Eosinofil

Eosinofil adalah salah satu jenis sel darah putih (leukosit) yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Dalam bahasa inggris tertulis eosinophil, memiliki nama lain acidophil. Kadar eosinofil normal yaitu dihitung berdasarkan rasio terhadap jumlah seluruh sel darah putih yaitu rasio eosinofil mormal sekitar 1–6% terhadap sel darah putih.

Eosinofil berdiameter 10 hingga 12 mikrometer. Jumlah eosinofil ini meningkat disaat terjadi asma, demam dan alergi yang membuat jangka hidup eosinofil antara 8 hari hingga 12 hari. Eosinofil dibentuk secara khusus di sumsum tulang dan membutuhkan waktu sekitar 8 hari untuk proses pematangannya. Setelah matang, eosinofil akan pindah ke aliran darah.

Fungsi eosinofil mirip dengan fungsi sel darah putih lainnya, yaitu terlibat dalam berbagai proses inflamasi, terutama pada gangguan alergi. Selain itu, eosinofil juga memiliki peran fisiologis dalam pembentukan organ (misalnya pengembangan kelenjar susu postgestational). Fungsi eosinofil yang khas yaitu berperan dalam reaksi alergi dan melawan infeksi parasit multiseluler.

Ciri-Ciri Eosinofil

  • Mempunyai nukleus dengan jumlah dua lobus.
  • Bersifat fagosit dan bersifat asam.
  • Biasanya berwarna merah.
  • Berbentuk mirip seperti bola, dengan berukuran 9 mm dalam segar.
  • Dibentuk di sumsum tulang.
  • Granula kasar dan padat.
  • Inti berada ditengah.

5. Limfosit

Limfosit dapat mempertahankan tubuh terhadap infeksi karena mereka bisa membedakan sel-sel tubuh sendiri dari sel-sel asing. Setelah mereka mengenali sel asing dalam tubuh, mereka memproduksi bahan kimia untuk menghancurkan sel asing tersebut. Limfosit berukuran kecil dan berbentuk bulat yang memiliki nukleus besar dalam jumlah sitoplasma yang relatif kecil. Limfosit berjumlah sekitar 1300-4000 sel/mm 3 dalam darah. Limfosit lebih sering ditemukan di jaringan limfatik dari pada aliran darah.

Ada dua jenis limfosit yang diproduksi di sumsum tulang sebelum kelahiran, yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit B, juga disebut sel B, ada di dalam sumsum tulang sampai mereka dewasa. Setelah matang, mereka menyebar ke seluruh tubuh dan berkonsentrasi dalam limpa dan kelenjar getah bening. Jenis sel darah putih ini memiliki fungsi penting dalam sistem kekebalan tubuh dan sangat berperan dalam imunitas humoral. Imunitas humoral merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berkaitan dengan produksi antibodi.

Ciri Limfosit

  • Limfosit memiliki jumlah 20 sampai 25% dari semua sel darah putih.
  • Terbentuk didalam sumsum tulang dan juga limfa.
  • Berinti sel satu.
  • Tidak bisa bergerak secara leluasa.
  • Mempunyai warna biru pucat.
  • Memiliki bentuk yang oval atau bulat.
  • Tidak memiliki granula dan juga mot.

Selain mengetahui jenis-jenis dari sel darah putih, ada baiknya jika anda juga memahami fungsi utama dari sel darah putih. Dan berikut beberapa fungsi dari Leukosit.

Fungsi Sel Darah Putih

Fungsi sel darah putih dalam melawan gangguan virus dan bakteri dari luar tubuh ini dilihat dari mikroskop, ketika dapat dijumpai sebanyak sekitar 20 mikroorganisme dapat di telan leukosit, oleh sebutir granulosit. Peranan penting Granulosit dan Monosit memberikan perlindungan dengan sifatnya sebagai fagosit (fago-memakan). Sehingga akan memakan bakteria hidup yang masuk dalam sistem peredaran darah. Secara keseluruhan, fungsi-fungsi yang terdapat pada sel darah putih (leukosit) di dalam tubuh adalah :

  • Berfungsi menjaga kekebalan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit.
  • Melindungi badan dari serangan mikroorganisme pada jenis sel darah putih granulosit dan monosit.
  • Mengepung darah yang sedang terkena cidera atau infeksi.
  • Menangkap dan menghancurkan organisme hidup.
  • Menghilangkan atau menyingkirkan benda-benda lain atau bahan lain seperti kotoran, serpihan-serpihan dan lainnya.
  • Mempunyai enzim yang dapat memecah protein yang merugikan tubuh dengan menghancurkan dan membuangnya.
  • Menyediakan pertahanan yang cepat dan juga kuat terhadap penyakit yang menyerang.
  • Sebagai pengangkut zat lemak yang berasal dari dinding usus melalui limpa lalu menuju ke pembuluh darah.
  • Pembentukan Antibodi di dalam tubuh.

Ciri-ciri Sel Darah Putih

  • Sel darah putih tersebut berjumlah kurang lebih 6 ribu-9 ribu butir.
  • Sel darah putih tersebut tidak memiliki warna ataupun tidak berwarna.
  • Mempunyai inti sel ataupun nukleus.
  • Memiliki bentuk yang banyak atau juga dapat dikatakan bentuknya tidak beraturan.
  • Dapat juga berubah bentuk.
  • Sel darah putih tersebut hanya dapat bertahan hidup antara 12 sampai dengan 13 hari.
  • Sel darah putih tersebut terbuat di dalam sumsum merah tulang pipih, limpa, dan juga kelenjar getah bening.
  • Bergerak secara ameboid (seperti dengan amoeba).
  • Dapat juga menembus dinding pembuluh darah.

Tubuh kita memang sangat membutuh kan sel darah putih untuk membantu menjaga sistem kekebalan tubuh. Namun kelebihan sel darah putih bukan menjadikan tubuh semakin kebal terhadap penyakit.Sebaliknya, kondisi ini menandakan adanya ketidakseimbangan dan gangguan yang dapat berbahaya.

Bahaya Kelebihan Sel Darah Putih

Kadar sel darah putih yang normal berkisar antara 5000-10.000. Namun nilai normal ini berbeda – beda tergantung dari kalibrasi alat laboratorium yang membaca hasil pemeriksaan darah ini. Secara umum, nilai leukosit 10.850 mg/dl mengalami sedikit peningkatan. Jika kadar darah putih lebih dari 10.850 maka dinamakan leukositosis. Leukositosis adalah kondisi dimana kadar sel darah putih meningkat dan melebihi batas normal.

Peningkatan produksi sel darah putih ini ternyata dapat disebabkan berbagai hal, mulai dari yang ringan hingga berat, yaitu:

  • Tubuh mengalami infeksi bakteri atau pun virus. Namun demikian, virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh justru akan mengurangi jumlah leukosit tertentu, lebih tepatnya yaitu sel CD4.
  • Konsumsi obat-obatan seperti kortikosteroid tertentu. Namun penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang justru dapat menurunkan kadar sel darah putih.
  • Kanker jenis tertentu seperti leukemia.
  • Peradangan seperti rheumatoid arthritis.
  • Reaksi alergi atau stres.
  • Beberapa penyakit pernapasan seperti tuberkulosis ataupun batuk rejan.
  • Polisitemia vera yaitu kondisi langka di mana tubuh memproduksi sel-sel darah secara berlebih.

Peningkatan produksi sel darah putih sebenarnya merupakan bentuk pertahanan tubuh terhadap reaksi eksternal yang dianggap berbahaya. Reaksi aneh ini adalah infeksi, reaksi alergi, luka. Saat tubuh terluka, risiko penetrasi benda asing dan bakteri meningkat. Itulah sebabnya tubuh memproduksi lebih banyak sel darah putih. Stres, kebiasaan merokok dan kehamilan juga bisa meningkatkan jumlah sel darah putih.

Penyebab Sel Darah Putih Meningkat

  • Stres yang berlebih.
  • Inflamasi.
  • Penyakit sumsum tulang.
  • Infeksi sinus.
  • Tuberkolosis.
  • Leokimia.
  • Infeksi kemih.
  • Terjadi infeksi dari bakteri.
  • Terjadi infeksi akibat jamur.
  • Penyakit radang usus.
  • Peradangan yang diakibatkan karena luka bakar.
  • Karena mengkonsumsi obat-obatan tertentu.

Nah, cara yang baik untuk mengatasi kelebihan darah putih yakni dengan memahami penyebab serta melakukan beberapa tindakan (pengobatan) untuk kelebihan darah putih, berikut beberapa hal yang wajib kalian lakukan.

  • Mengkonsumsi nutrisi yang cukup dan seimbang.
  • Menjaga hidrasi tubuh dengan minum air putih 8-10 gelas sehari.
  • Istirahat yang cukup.
  • Tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat.
  • Tidak merokok.
  • Mencuci tangan setelah beraktivitas di luar ruangan.

Meskipun ada kuman di sekitar dan sepanjang waktu, kita jarang sakit. Itu karena sistem kekebalan tubuh kita terus berjaga-jaga dan melindungi kita dari infeksi. Untuk menjaga itu semua perlu juga diseimbangi dengan gaya hidup yang sehat. Maka dari itu penting banget untuk mengetahui pengertian serta jenis-jenis dari sel darah putih. Dari penjelasan diatas semoga pembaca dapat memahami dan memeberi manfaat bagi kalian.