Bukan Enggan Mencari Pasangan. Tapi Ada Doa Lain Yang Ingin Kusegerakan

Jodoh? Mungkin kebanyakan gadis selalu mendambakan yang namanya sebuah pernikahan, bahkan banyak dari mereka yang telah lulus sekolah (SMA) melanjutkan hidupnya untuk berumah tangga dan memilih berkarir sambil membina rumah tangga.

Sebuah pernikahan adalah hal yang paling ditunggu-tunggu bahkan untuk memulai berumah tangga banyaknya para pria menyiapkan dirinya dengan kemapanan (karir yang baik). Namun apa jadinya jika seorang gadis yang telah menginjak usia 25 tahun belum juga ingin menikah, bahkan dia bukanlah seorang mahasiswi (tidak kuliah) ia hanya seorang pegawai kantor biasa.

Ibu selalu menanyakan mengapa kamu tak kunjung membawa jodoh kerumah ini? Apa kamu nggak ingin menikah dan memiliki anak? Pertanyaan seperti ini membuat gadis ini bersedih, bukan karena jodohnya yang tak kunjung datang. Melainkan ada keinginan yang ia dambakan untuknya dan saudaranya (adik dari gadis ini).

Melihat teman-temannya yang sudah berkeluarga bahkan beberapa dari mereka telah dianugerahi seorang anak membuatnya mendesak sang putri untuk segera berkeluarga. Bu.. saya tahu kamu cemas dengan masa depanku, kutahu isi hatimu yang mendesak diriku untuk segera mencari jodoh. Tapi ada keinginan lain yang belum kucapai dan keinginanku tersebut hanya untuk membuatmu bahagia.

Sewaktu SMA

Ketika dimana aku dihadapkan dengan kenyataan yang pahit membuat ku takut akan ‘cinta‘ karena dimana masa SMA saya telah menemukan sosok lelaki yang begitu manis dan baik, dimana sosok lelaki tersebut yang kusukai. Begitu nyaman saya bahkan merasa bahwa tuhan menciptakannya hanya untukku. Serasa sahabat, saudara dan bahkan timbul rasa egois yang ingin memiliki dirinya. Namun kutahu itu nggak mungkin, karena ada sosok wanita yang menyukainya dan kutahu wanita itu jauh lebih baik dan berprestasi.

Nanda, nama lelaki itu. Tahukan kalian untuk pertama kalinya saya merasakan sakit yang buat saya takut akan mengenal cinta. Sedih, hancur,  apalagi melihat keduanya dekat dan menjalin kasih. Mungkin agak sedikit lebay namun itulah yang kurasakan. Setelah lulus dari SMA saya berfikir mungkin rasa sakit dan takut ini akan hilang seiring berjalannya waktu.

Kehilangan Bapak, Menghancurkan Semua Impianku

Pada tanggal 1 july 2013 (sepertinya) saya mengikuti tes ujian untuk masuk Universitas Negri, menjalankan tes yang sangat berat dan pastinya tersimpan keraguan akan gagal dalam ujian tersebut. Yah sebenarnya sih impianku menjadi seorang artis/dancer profesional, namun mengingat ekonomi keluarga yang terbilang pas-pas-an saya mengubur semua impian itu dalam-dalam.

Dan tahukah kamu selang berapa hari, saya dihadapkan dengan kenyataan yang buat saya hancur dan rasanya ingin mati saja. Orang yang paling mengerti saya dan yang paling bisa buat saya tenang telah pergi untuk selama-lamanya 17 July 2013. 

Kenyataan ini buat saya hampir gila, nggak ngerti dan nggak percaya dengan semua ini. lelaki yang kuat itu akhirnya mengalah kepada takdir. Tahukah kamu bahwa dia adalah ‘bapak saya‘ tak terima dengan kenyataan ini membuat saya shock dan mengalami depresi yang mengakibatkan saya tidak terkendali. Seperti orang gila, menangis tertawa bahkan pernah lari dari rumah tanpa sadar.

Kehilangan bapak membuat saya takut akan segala hal. Dihadapkan dengan masalah ini membuat saya tidak menginginkan apapun bahkan tidak ingin menjadi orang yang berguna. Seperti yang kalian tahu bahwa seorang putri cenderung lebih sayang kepada bapaknya.

Tak mau bekerja, bahkan saya tak peduli akan masa depan dan hubungan sosial. Terus berbuat onar susah diatur membaut ibu saya sedih akan sikap saya yang tak terkendali. 3 tahun berlalu hidup saya masih seperti itu juga, membosankan bahkan saya selalu bertengkar dengan ibu saya.

Hal ini saya lakukan bukan karena saya tak menyayanginya hanya saja saya terlalu mencintainya dan saya ingin dia bahagia dan tak terlalu memikirkan mereka yang telah menyakitinya. Selalu marah-marah menyalahkanh diri saya atas semua yang terjadi. Hal ini membuat saya frustasi dan pada akhirnya saya memberanikan diri untuk bekerja dan berjanji kepada diri sendiri bahwa saya ingin mengabdi kepada ibu dan saudara saya.

Disinilah Awal Janji, Yang Ingin Kutepati

Pak, tahukah kamu bahwa saya telah sedikit berubah, saya tak meminta uang lagi dan saya tak merepotkan ibu lagi. Saya ingin menjadi orang yang berguna karena seperti dalam mimpiku bahwa kau akan datang menjemputku kalau saya telah memberikan kebahagiaan (seperti memberikannya rumah yang layak) kepada ibu dan adik-adikku.

Saya berfikir mungkin itu adalah hal yang tak mungkin karena mengingat saya hanya tamatan SMA saja dan saya tak memiliki kecerdasan yang baik. Namun tekad saya akan janji tersebut membuat saya tak perduli seberapa lama saya akan mengumpulkan uang. Karena hal yang terpenting bagi saya adalah memberikan rumah yang layak dan pendidikan yang baik baut adik-adik.

Mungkin ini, hanya baru sedikit saja. Namun saya akan berusaha keras lagi, pak apakah kau tahu ibu selalu menyuruhku untuk menikah. Ini semacam hambatan untukku bekerja, karena seperti yang kalian tahu bahwa seorang wanita yang telah menikah dia harus mengurus rumah tangganya dan mengikuti perintah dari sang suami. Ini akan mempersulit janjiku terhadap bapak, terlebih lagi kasih sayangku akan terbagi.

Pak apa salah jika saya tak menikah karena saya ingin selalu berada disamping ibu. Apa buruk jika seorang wanita tak menikah? Terlebih lagi saya tidak bisa mencintai siapapun, karena lelaki yang saya cintai hanya Nanda saja, ternyata banyaknya waktu yang telah berlalu tak membuat saya lupa akan kenangan manis bersamanya.

Bukan tak berusaha untuk menjalin kasih dengan yang lain, namun saya sudah melakukannya dan sering mencoba untuk berpacaran dan menjalin kasih dengan mereka (beberapa pria). Namun apa yang terjadi? Saya tak menemukan titik kenyamanan dimana saya merasakan hal tersebut bersama Nanda (teman SMA). Namun Nanda adalah masa lalu saya dan saya tak mau masalah cinta menghampiri hidup saya lagi, karena ada impian lain yang ingin saya wujudkan.

Tak perduli seberapa keras usaha ibu dalam menjodohkan dan mengancamku akan hal pernikahan. Aku begitu menyayangi mu bu, kau tak perlu khawatir akan kebahagiaan ku karena kebahagiaan saya hanya bersamamu ibu. Saya hanya meminta doamu agar saya diberikan kekuatan untuk tetap terus bekerja.

Buat ibuku sayang, saya hanya ingin kamu sehat terus dan berumur panjang. Tak peduli secerewet apa kamu namun yang saya tahu, saya ingin terus berada disampingmu. Maaf saya terlalu egois tak memikirkan apa yang kamu mau, saya hanya ingin mewujudkan janji saya agar bapak datang menjemputku.

Karena seperti yang ibu tahu ketika saya dalam masa depresi sosok bapak datang dan ia mengatakan bahwa ia akan datang dan menjemputku ketika saya telah berhasil dalam janji ini. Mungkin ini pemikiran yang gila, namun percaya atau tidak percaya saya akan menepati janji saya. Karena saya begitu mencintai kalian berdua dan berharap bahwa kelak saya dapat membahagiakan ibu didunia dan membahagiakan bapak disurga sana (tak putus berdoa untuknya).