Festival Penis Unik Dari Jepang

Siapa yang tak ingin pergi ke Jepang? Jepang negara yang terkenal dengan keindahan pohon sakura nya dan teknologi yang canggih. Jepang juga memiliki budaya malu yang sangat tinggi. Jepang selalu dikenal dengan kedisiplinan dan pekerja keras, namun Jepang juga sama dengan negara yang lain yang memiliki festival unik. Tetapi festival Jepang ini dibilang sangat menarik, unik, dan lucu ,dimana di festival ini setiap orang yang hadir harus memuja penis (kemaluan laki-laki). Iihh Woww !! Menarik bukan ? Yuk disimak informasi mengenai festival Penis Jepang.

Jepang memiliki festival yang sangat unik dimana orang harus berbondong-bondong membawa patung dengan berbentuk penis. Festival ini membutuhkan “open mind” atau pikiran yang terbuka dari para pengunjungnya. Tanpa keterbukaan pikiran, bisa jadi kita akan merasa jengah ataupun tersinggung. Hal itu karena festival Kanamara adalah Festival Penis yang mengangkat tema sentral tentang penis.

Festival yang diberi nama “Kanamara Matsuri” ini berada di daerah Kawasaki, Jepang. Orang akan berbondong-bondong jalan ke Desa Komaki selama 45 menit dari pusat kota Nagoya untuk ke kuil sebagai pemujaan penis. Setiap musim semi, orang tua dan anak muda sama saja datang ke kuil untuk melihat penis kayu besar yang di arak di jalanan. Festival ini sangat populer di kalangan pelacur yang ingin berdoa untuk perlindungan dari penyakit menular seksual.

Tradisi ini diduga dimulai sekitar 1.500 tahun yang lalu. Sebuah perayaan musim semi, “festival penis” atau “Kanamara Matsuri” dilakukan untuk membawa kesuburan dan panen yang baik kepada orang-orang. Festival tersebut jatuh tepat pada hari minggu pertama bulan April, Alat kelamin laki-laki (Penis) menjadi simbol utama pada acara Kanamara Matsuri, kata “Kanamara” sendiri memiliki makna yaitu Dewa Penis Besar. Uniknya lagi pada acara tersebut banyak produk yang dibuat menyerupai penis diantaranya adalah permen, cemilan, ukiran sayuran sampai adanya parade “Mikoshi” (mengangkat patung besar berbentuk penis).

Bagi orang asing, festival ini nampak “menggelikan” sekaligus membuat jengah. Tapi bagi orang Jepang ini adalah hal yang standar dan biasa saja. Festival Penis telah berlangsung selama lebih dari 1500 tahun. Ini adalah bagian dari ritual Shinto yang dilakukan penduduk Jepang untuk memberi persembahan pada Dewa Kesuburan dan Fertilitas. Selain itu, festival ini juga digunakan sebagai doa agar terhindar dari penyakit menular seksual dan sebagai upaya menggalang dana bagi riset penyakit HIV.

Sebelum kuil o-mikoshi dipanggul, para pendeta Shinto membacakan doa di depan o-mikoshi tersebut sambil mengharapkan turunnya kesuburan, kesehatan, dan keberkahan. Setelah doa selesai dibacakan, o-mikoshi itupun dipanggul keliling daerah perumahan di sekitar kuil Kanamaya.

Penis melambangkan alat kelamin pria yang menjadi simbol kesuburan, energi generatif, lambang reproduksi, dan simbol Ayah. Secara filosofis, pemujaan terhadap penis (phallic worship) adalah tradisi kaum politeis yang tujuannya secara total adalah representasi miniatur pada energi dan ketakjuban pada proses penciptaan manusia.

Festival ini dilatarbelakangi oleh sebuah cerita bahwa dulu kala pernah ada seorang gadis yang merupakan seorang anak dari penjaga penginapan. Sang gadis tersebut dengan segala pesonanya menarik perhatian setan bergigi tajam. Setanpun berkeinginan untuk memiliki gadis tersebut. Namun karena niatnya tidak kesampaian, akhirnya sang setan memutuskan untuk masuk dan mendiami vagina si gadis dan mengebiri laki-laki yang menjadi pasangannya. Si gadis akhirnya menyadari keberadaan si setan dan berusaha untuk mengusirnya. Gadis tersebut kemudian meminta bantuan kepada seorang pandai besi untuk mengusirnya.

Pandai besi itu kemudian membuat penis dari besi untuk mengusir setan yang bersemayam di alat kelamin si gadis dengan cara mematahkan giginya dan pada akhirnya setan pun bisa diusir. Untuk memperingati momen tersebut. Di berbagai negara, termasuk Indonesia, tradisi memuja penis juga pernah ada. Sebagai bagian dari sejarah animisme dan dinamisme, masyarakat Indonesia dahulu mengenal istilah Lingga dan Yoni. Bila kita berkunjung ke beberapa candi di Jawa dan melihat banyak sekali lambang lingga dan yoni di sana.

Berbagai artifak mengenai lingga dan yoni juga masih bisa disaksikan saat ini. Lingga adalah representasi alat kelamin pria yang dilambangkan dengan tiang atau tonggak, bisa berbentuk persegi atau silinder. Sementara yoni adalah representasi alat kelamin wanita yang dilambangkan dengan sebuah wadah yang berbentuk persegi atau lingkaran yang memiliki pancuran. Dan berikut ini video tentang festival penis di Jepang