Pilu, Kini Sosok Pedofil Membuat Banyak Orang Tua Takut

Sungguh pilu, banyaknya kasus yang menimpa anak dibawah umur membuat banyak orang tua cemas akan buah hatinya. Terlebih lagi sedang maraknya kasus pemerkosaan dan pembantaian anak, mengapa harus mereka yang tak berdosa menjadi sasaran kalian.

Yah setelah pembantaian dan penculikan anak, kini ada lagi berita yang sangat menyakitkan yang mengincar anak-anak sebagai sasaran mereka (pedofil). Pada hari ini saya akan membahas mengenai Pedofil, penyebab dan ciri-ciri dari pedofil untuk itu kita simak saja artikel yang ada dibawah ini.

Apa Itu Pedofil?

Adalah kelainan psikoseksual, dimana orang dewasa atau remaja memiliki preferensi seksual terhadap anak-anak praremaja. Gangguan ini juga dianggap sebagai parafilia, yang adalah sekelompok gangguan yang didefinisikan sebagai aktivitas seksual yang abnormal.

Menurut media massa, pedofilia lebih dikenal sebagai aksi pelecehan anak. Definisi ini kurang tepat dan tidak akurat dalam menggambarkan situasi pasien yang menyebabkan kesulitan pada penelitian dan pengumpulan data penyakit ini.

Para psikolog dan psikiater menganggap pedofilia sebagai gangguan mental, bukan preferensi seksual. Di banyak negara, pedofilia dikategorikan sebagai kasus pidana. Preferensi pedofil dapat bervariasi dari orang ke orang. Beberapa individu tertarik terhadap anak laki-laki dan perempuan, beberapa tertarik hanya terhadap satu jenis kelamin ada juga yang tertarik pada anak dan orang dewasa sekaligus.

Para pedofil memiliki beberapa karakteristik umum, yang meliputi:

  1. Memiliki fantasi keinginan atau perilaku seksual terhadap anak-anak.
  2. Lebih ditemani oleh anak-anak, merasa lebih nyaman berada di sekitar anak-anak
  3. Biasanya pedofil adalah orang yang populer dan sangat disukai di kalangan anak-anak dan orang dewasa di
    lingkungannya.
  4. Biasanya, namun tidak selalu, pedofil adalah pria, maskulin dan berusia 30-an.

Nah, walaupun dikatakan bahwa karakter dari pedofil cenderung seorang pria, namun sangat penting juga untuk kamu kethau bahwa tidak ada pedofil yang khas. Pedofil bisa muda, tua, pria atau wanita. Biasanya pedofil tidak memilih anak-anak yang asing sebagai sebagai korbannya. Mereka cenderung memilih anak yang sudah mereka kenal, baik itu keluarga, tetanggaanggota tim atau komunitas yang diikuti juga oleh Si Pedofil dan lain sebagainya.

Maka dari wahai orang tua berwadpadalah dan perhatikanlah buah hatimu. Kejahatan bisa terjadi dimana saja bahkan ketika kalian lengah akan buah hati kalian sendiri. Adakah ciri atau cara untuk mengindentifikasi seorang pedofil?

Ciri-Ciri Pedofil

Yah mereka memiliki ciri-ciri dan sebagai upaya pencegahan perlu untuk ibu-ibu tahu seperti apa ciri seorang pedofil agar anak kalian bisa terhindar dari kejahatan seksual.

Terlalu Obsesif

Seperti yang dikemukakan oleh Mantan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPAI) Arist Merdeka Sirait, seorang pedofil cenderung memiliki sifat obsesif yang berlebihan. Ia akan terus mengejar sasaran yang telah ditentukannya dan tidak akan berhenti sebelum sasaran itu tercapai.

Sasaran disini berupa anak-anak yang memang dijadikan sebagai objek pelampiasan hasrat seksual para pedofilia. Pernyataan Arist tersebut didasarkan pada pengakuan Andri Sobari alias Emon, pelaku pedofilia yang tertangkap dan berasal dari sukabumi pada tahun 2014 lalu.

Bersifat Layaknya Predator

Ciri kedua yang dimiliki seorang pedofil adalah sifat layaknya predator yang memangsa siapapun anak yang ada di depan matanya. Masih dari pengakuan Emon, Seperti Emon ini ia mengaku setiap ada anak yang masuk ke kolam renang (Lio Santa) akan dia sergap. Walaupun pengakuannya tidak semua diperlakukan secara kasar, tapi ada juga yang sekadar dipegang bahunya ungkap Arist Merdeka Sirait.

Lihai Dalam Merayu Anak

Ini nih yang harus diwaspadai kebanyakan orang tua, Menurut Psikolog yang juga dosen Bimbingan Konseling FKIP Universitas Lampung Shinta Mayasari, pedofil merasa lebih mampu berinteraksi dengan anak-anak. Mereka umumnya bukan orang asing bagi anak karena punya akses untuk berinteraksi secara intensif.

Mereka akan mendekati anak-anak ini dengan memberi perhatian, kasih sayang bahkan hadiah untuk mendapatkan kepercayaan. Pelan-pelan mulai mengajarkan anak tentang seks seperti memperlihatkan gambar, bermain peran sebagai pasangan, menyentuh secara halus terlebih dahulu dan seterusnya. Sehingga, anak-anak tidak menyadari bahwa mereka sedang dilecehkan secara seksual.

Introvert

Ciri yang terakhir adalah sifat introvert. Introvert itu artinya suka menyendiri dan terkesan tertutup dari kehidupan sosial. Namun perlu digaris bawahi bahwa tidak semua orang yang memiliki sifat introvert bisa dikatakan sebagai pedofil. Seorang intorvert itu belum tentu pedofil, namun seorang pedofil umumnya memiliki sifat introvert.

Adapun penjelasan mengenai ciri pedofil yakni, Sebuah studi terbaru yang dilakukan University of Windsor di Kanada menemukan, bahwa pedofil cenderung kidal dan sering memiliki kelainan di wajah yang bersifat minor atau dalam dunia kesehatan disebut Anomali Fisik Minor atau Minor Physical Anomalies (MPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek-aspek tertentu dari perkembangan saraf sejak dalam kandungan dapat memengaruhi risiko seseorang untuk menjadi pedofil.

Bukti yang terus terakumulasi mendukung temuan kami yang menyatakan perkembangan saraf dapat memengaruhi risiko seseorang menjadi pedofilia,” kata pemimpin penelitian, Dr. Fiona Dyshniku. Dengan penemuan ini, kita dapat mencegah orang dengan kecenderungan pedofil menjadi kriminal.

Pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin, bahkan ketika si calon pedofil masih bayi atau anak-anak dengan memberi pendidikan dan perhatian khusus. Dan mudah-mudahan ini juga bisa meningkatkan metode pengobatan untuk kelompok pedofilia. Dan adapun penyebab lain yang membuat seseorang menjadi pedofilia ialah,

Penyebab Seseorang Menjadi Pedofil

1. Kelainan Otak

Tercatat, ada perbedaan dalam struktur otak di diri pedofiltepatnya di bagian frontocortical. Jumlah materi abu-abu, unilateral, bilateral lobus frontal dan lobus temporal dan cerebellar. Menurut penelitian, perbedaan ini mirip dengan orang-orang dengan gangguan kontrol impuls seperti OCD, kecanduan dan gangguan kepribadian antisosial.

Kelainan otak itu mungkin terjadi saat bayi atau dalam kandungan ketika otak sedang terbentuk. Namun, gangguan stres pasca-trauma juga bisa menyebabkan kelainan otak. Demikian juga dengan pengalaman traumatis di awal kehidupan, menurut penelitian Hall & Hall tahun 2007.

2. Perbedaan Neurologis

Umumnya, semakin rendah tingkat kecerdasan seorang pedofil semakin muda korban yang disukainya. Perbedaan neurologis lain yang ditemukan pada para pedofil adalah cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dibanding kebanyakan orang lain. Sejumlah besar penelitian, salah satunya studi oleh Hucker et al tahun 1986, menunjukkan bahwa pedofil memiliki kelainan otak yang ditemukan di lobus temporal.

Peneliti juga menemukan adanya perbedaan serotonin agonis (senyawa yang mengaktifkan reseptor serotonin) pada pedofil yang diuji dalam studi. Selain itu, peneliti melihat adanya peningkatan level pedofilia pada orang-orang yang pernah menderita luka kepala serius ketika kecil, terutama sebelum usia enam tahun.

Penelitian Berlin & Krout tahun 1994 mengungkapkan, ada beberapa pedofil yang memiliki kelainan kromosom. Dari 41 orang yang ditelititujuh dari mereka memiliki kelainan kromosom termasuk sindrom Klinefelter. Sindrom Klinefelter adalah kondisi di mana pria memiliki kromosom X tambahan dalam kode genetik mereka.

3. Faktor Lingkungan

Mungkin ini penyebab kebanyakan pedofil ya guys, Selain faktor fisiologis faktor lingkungan juga turut berperan dalam terbentuknya pedofilia. Ada banyak kontroversi mengenai apakah seseorang yang pernah mengalami pelecehan seksual di masa kecilnya, akan tumbuh dengan perilaku seksual menyimpang.

Statistik menunjukkan bahwa secara umum, lebih banyak orang dewasa dengan perilaku seksual menyimpang. Pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu mereka masih anak-anak. Ini yang dikatakan oleh studi Hall & Hall sebagai kejadian traumatis di awal kehidupan dapat menyebabkan kelainan perkembangan otak.

Ada juga teori yang mengatakan, mungkin para pedofil yang pernah mengalami pelecehan ingin mengidentifikasi dirinya dengan pelaku atau menaklukkan perasaan tidak berdayanya dengan menjadi pelaku. Sungguh menyedihkan jika seseorang memiliki pikiran semacam itu.

4. Masalah Tumbuh Kembang

Seperti disebutkan sebelumnya, peneliti menemukan bahwa pedofil cenderung ber-IQ lebih rendah daripada orang lain. Sebanyak 61 persen pedofil pernah tidak naik kelas saat mereka masih bersekolah, atau mengeyam pendidikan di sekolah untuk anak berkebutuhan khsusus (Hall & Hall, 2007).

Beberapa teori mengatakan, mungkin para pedofil telah mengalami masalah perkembangan psikoseksual sejak dini disebabkan oleh stres atau trauma ketika mereka masih anak-anak. Studi Lanyon tahun 1986 menduga, stres atau trauma ini menyebabkan tumbuh kembang mereka terhambat atau mundur dan diwujudkan dalam kesukaan mereka berfantasi atau melakukan aktvitas seksual dengan anak-anak.

Masalah pedofil memang menghantui banyak orang khususnya ibi-ibu, mereka resah ketika buah hatinya harus pergi beraktifitas atau pergi kesekolah. Tak tenang jika meninggalkan buah hati pergi sendiri, bahkan menjadi takut dan panik. Dan mulai berfikiran aneh-aneh dan mulai tak mempercayai mereka (orang-orang sekitar/tetangga). Pertanyaannya adakah penyembuhan atau pengobatan bagi mereka (pedofil)?

Adakah Pengobatan Bagi Penderita Pedofilia?

Menurut Yuri Grebchenko, MD, yang telah melakukan banyak riset untuk kasus pedofilia, menyatakan bahwa pedofilia merupakan penyakit seumur hidup sehingga diperlukan pengobatan yang seumur hidup pula. Studi terbaru menunjukkan bahwa psychotherapy serta pharmacoteraphy merupakan kombinasi terapi yang tepat bagi penderita pedofilia.

Psychotherapy melibatkan penderita pedofilia untuk membicarakan mengenai trauma masa lalu yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Terapis akan berusaha untuk mencari tahu hal apa saja yang dapat membuatnya ingin melakukan kekerasan seksual pada anak kecil.

Kemudian, terapis akan membantunya penderita untuk membenarkan perilakunya yang salah. Sedangkan pharmacotherapy yang biasa digunakan adalah selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), luteinizing hormone-releasing hormone (LHRH), serta leuprolide acetate (LA). Hasrat seksual yang dimiliki oleh penderita pedofilia, sama seperti hasrat seksual pada kaum lesbian dan gay, tidak dapat benar-benar diubah menjadi normal.

Pengobatan yang dilakukan biasanya lebih menekankan pada pencegahan untuk melakukan kekerasan daripada mengubah orientasi seksualnya secara total. Maka dari itu pengobatan yang baik ialah jika itu datang dari diri sendiri, karena keyakinan kamu akan mempengaruhi keberhasilan dalam usaha yang kamu lakukan untuk menghilangkan gangguan pedofilia dari dalam diri kamu. Saat kamu menggunakan terapi ini, lakukanlah visualisasi dengan baik dan dengan keyakinan yang kuat.

Yah, saya tahu kecemasan para orang tua akan sosok pedofil bahkan saya juga sangat khawatir akan hal ini. Maka dari itu berwaspadalah dan jangan mudah percaya terhadap orang asing. Dan demikianlah artikel pada hari ini dan selamat membaca.